"Usia saya sudah 40 tahun. Apa tidak terlambat belajar mengaji?"
"Saya sebenarnya malu kalau harus mulai lagi dari Iqra."
"Saya bisa membaca Al-Qur'an, tetapi tajwidnya masih banyak yang lupa."
Perasaan seperti ini cukup wajar dirasakan orang dewasa yang ingin kembali belajar Al-Qur'an.
Kesibukan bekerja, mengurus keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya terkadang membuat belajar Al-Qur'an tertunda bertahun-tahun.
Tanpa terasa, kita semakin dewasa tetapi hubungan dengan Al-Qur'an tidak banyak berkembang.
Pertanyaannya: apakah sudah terlambat untuk kembali belajar?
Tentu tidak.
Belajar Al-Qur'an Tidak Mengenal Batas Usia
Belajar sering dianggap sebagai aktivitas anak-anak.
Padahal, belajar Al-Qur'an dapat dilakukan pada setiap tahap kehidupan.
Ada yang mulai belajar sejak kecil. Ada yang baru serius memperbaiki bacaan ketika kuliah. Ada pula yang baru memiliki kesempatan belajar setelah menikah atau ketika sudah memiliki anak.
Titik awal setiap orang berbeda.
Yang terpenting bukan kapan kita memulainya, tetapi apakah kita bersedia mengambil langkah untuk mulai belajar.
Bisa Membaca Belum Tentu Tidak Perlu Belajar Lagi
Sebagian orang sebenarnya sudah bisa membaca Al-Qur'an.
Namun ketika diperhatikan lebih jauh, mungkin masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki:
makhraj huruf yang belum tepat, panjang-pendek yang belum konsisten, hukum tajwid yang terlupakan, atau kebiasaan membaca yang terbentuk sejak kecil dan belum pernah dikoreksi.
Karena itu, belajar Al-Qur'an bukan hanya untuk mereka yang belum bisa membaca.
Orang yang sudah lancar pun tetap memiliki ruang untuk meningkatkan kualitas bacaannya.
Al-Qur'an Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Al-Qur'an bukan sesuatu yang hanya kita buka pada bulan Ramadan.
Ayat-ayat Al-Qur'an hadir dalam kehidupan seorang Muslim setiap hari, terutama dalam shalat.
Surah Al-Fatihah, misalnya, terus kita baca dalam setiap rakaat.
Bayangkan jika kita meluangkan waktu untuk memperbaiki bacaan yang setiap hari kita ulang tersebut.
Perubahan kecil dalam kemampuan membaca dapat memberikan manfaat yang terus kita rasakan dalam ibadah sehari-hari.
Belajar Juga Menjadi Teladan bagi Keluarga
Ada satu manfaat lain ketika orang dewasa kembali belajar Al-Qur'an: anak-anak melihatnya.
Seorang ayah yang masih mau belajar tajwid menunjukkan bahwa belajar tidak berhenti ketika seseorang menjadi dewasa.
Seorang ibu yang rutin mengikuti kelas Al-Qur'an menunjukkan bahwa memperbaiki bacaan adalah sesuatu yang penting.
Kita tidak harus menunggu sempurna untuk menjadi contoh.
Terkadang, justru kesediaan orang tua untuk terus belajar menjadi pelajaran yang berharga bagi anak.
Tidak Harus Menunggu Punya Banyak Waktu
Salah satu alasan yang paling sering muncul adalah:
"Nanti kalau sudah tidak sibuk, saya mulai belajar."
Masalahnya, kesibukan mungkin tidak pernah benar-benar selesai.
Karena itu, daripada menunggu waktu luang yang sempurna, kita bisa menyediakan waktu khusus meskipun singkat.
Beberapa menit untuk membaca.
Satu sesi untuk belajar.
Satu kesalahan tajwid untuk diperbaiki.
Jika dilakukan secara konsisten, langkah kecil tersebut dapat menghasilkan perubahan yang besar.
Mulailah Hari Ini
Jika sudah lama memiliki keinginan untuk belajar Al-Qur'an, tidak perlu menunggu sampai merasa siap.
Mulailah dari kemampuan yang ada sekarang.
Tidak masalah jika masih terbata-bata.
Tidak masalah jika banyak hukum tajwid yang sudah lupa.
Dan tidak perlu malu jika harus belajar kembali dari dasar.
Sayang Quran hadir untuk membantu masyarakat belajar dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an secara bertahap.
Karena tidak ada usia yang terlalu tua untuk belajar, dan tidak ada langkah yang terlalu kecil untuk kembali mendekat kepada Al-Qur'an.